/1./
Bahkan dalam hujan sekalipun, engkau mencurahkan cinta yang menitisi gelombang yang menengadahimu..
/2./
Pernah kau tanya, Langit, serupa apakah biru?
Kataku, seperti aku yang menyebutmu dengan lafal cinta, biru, sekalipun malam yang tergelap bersiasat menyembunyikan kerlip-kerlip bintang darimu.
/3./
Aku mencintaimu. Dengan satu-satunya cinta yang kuketahui. Seperti lengkung dirimu yang melingkupiku utuh-utuh, melepas semua batas. Seperti pernah di suatu masa hanya ada debur dadaku yang mendegupi debar dadamu. Seperti itu saja aku mencintaimu. Tanpa ingin. O, bagaimana mungkin aku menginginkan, sementara kau menindai setiap ombak yang ada di diriku, menjadikanku seluruhmu dalam sepenuhku?
/4./
Dan aku hanya samudera kecil, melaju serupa perahu yang terhela oleh anginmu, langit yang membentangi seangkasa raya.
/5./
Kutitiskan puisi dari buih-buih ombak yang pecah dan doa-doa yang dimantrai oleh bulir-bulir airmata peri-peri penjalin pelangi. Menjatuhkannya kepada langit, merupa titik-titik yang meniti angin menuju dadanya, menjadi anak-anak yang kelak memelukku dengan cinta yang berbaris-baris.